Salah satu prinsip yang ditanamkan ke anak-anak TBM Lentera Pustaka di
kaki Gunung Salak Bogor adalah “adaptif lebih penting daripada pintar”.
Anak yang adaptif lebih penting daripada anak yang pintar. Bukan
berarti kecerdasan tidak penting, tapi menekankan prioritas keterampilan hidup
di dunia yang terus berubah. Membaca dan buku, bukan hanya untuk membuat
pembacanya jadi lebih pintar, akibat banyak tahu banyak wawasan. Tapi
menjadikan anak-anak lebih adaptif dengan keadaan dan realitas keseharian.
Adaptif lebih penting daripada pintar. Karena dunia berubah lebih cepat
daripada buku bacaan atau buku pelajaran. Anak yang adaptif akan mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi, lingkungan sosial, dan tantangan
baru. Bahkan ketika ilmu yang dimiliki telah usang sekalipun.
Adaptif, berarti mau belajar ulang, bukan sekadar tahu. Anak pintar
unggul dalam menguasai materi. Tapi anak yang adaptif akan unggul dalam:
mempelajari hal baru, melepaskan cara lama yang tidak relevan lagi, mencari
solusi saat situasi berubah, dan mampu menerima realitas apapun dalam hidup.
Sebab pada akhirnya ketahanan mental lebih menentukan daripada IQ.
Anak-anak adaptif biasanya: tidak mudah menyerah, mampu bangkit dari
kegagalan, fleksibel menghadapi tekanan, dan yang penting mampu menyesuaikan
diri terhadap dinamika yang terjadi. Sikap adaptif, lebih menentukan
keberhasilan jangka panjang daripada nilai akademik semata. Pintar tanpa
adaptasi bisa kalah zaman.
Saat ini, banyak anak cerdas kesulitan ketika lingkungan tidak sesuai
ekspektasi, aturan berubah, bahkan saat gagal mencapai tujuan. Sebaliknya, anak
adaptif belajar dari situasi. Idealnya, anak mampu adaptif dan pintar. Yang
terbaik tentu bukan memilih salah satu, tetapi mendidik anak agar cerdas
sekaligus adaptif. Punya pengetahuan dan kemampuan menyesuaikan diri.
Di TBM Lentera Pustaka, ratusan anak selalu disiplin datang dan membaca
buku. Minimal seminggu 3 kali. Pagi sekolah dan sepulang sekolah ke taman
bacaan. Datang, ambil buku, duduk, dan membaca. Menjadi bukti abak-anak yang
adaptif dengan kondisi kesehariannya. Membaca buku bukan hanya menambah
pengetahuan. Tapi lebih pada membentuk sikap dan karakter untuk lebih adaptif
terhadap keadaan. Adaptif, tidak akan berkeluh-kesah apalagi meratapi keadaan.
Sebab, di masa depan yang penuh ketidakpastian, kemampuan beradaptasi
sering menjadi penentu utama. Sementara kepintaran menjadi alat pendukungnya.
Anak yang adaptif akan selalu menemukan cara untuk tetap relevan.
Dan adaptif (bukan pintar) adalah cara untuk menaklukkan diri sendiri,
disiplin atas waktu dan menyesuaikan dengan keadaan. Sebab esok, kemenangan
terbesar dimulai dari dalam diri sendiri, bukan dari orang lain. Salam
literasi!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar