Literasi dan taman bacaan, terkadang jadi gampang frustrasi karena mikir yang gede-gede. Harusnya begini harusnya begitu, pengen begini pengen begitu. Akhirnya, isi taman bacaan masalah melulu. Kurang buku, kurang donatur, kurang biaya operasioonal, hingga kurang program pemerintah yang peduli taman bacaan. Apa iya begitu?
Kaum pembaca buku juga meyakini, bahwa masa depan itu dibangun dari
hal-hal yang spektakuler. Sukses atau hebat hanya diukur dari tindakan yang luar
biasa. Anggapan itu tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar. Justru, masa depan
atau sukses juga bisa dibangun dari hal-hal kecil yang dibiasakan. Asal konsisten,
apapun bisa sukses dan survive.
Dan entah kenapa, saat harapan tidak sesuai kenyataan akhirnya reaksi paling
mudah adalah mengeluh. Mengeluh pada keadaan, pada orang lain, pada nasib,
bahkan pada diri sendiri. Tapi faktanya, setelah keluhan itu habis dilontarkan.
Masalahnya tetap berdiri di tempat yang sama, bahkan sering terasa lebih berat.
Karena energi mental sudah terkuras tanpa arah. Ya begitulah, banyak orang
merasa hidupnya berat bukan semata karena masalah yang dihadapi. Tapi karena
cara pikir yang dibiarkan liar tanpa kendali. Hingga kita lupa, masalah dan beban
hidup tidak akan pernah berkurang hanya karena kita mengeluh. Tapi bisa terasa
lebih ringan ketika pikiran dikelola dengan benar.
Agak susah memang di zaman begini. Diajak mengelola pikiran, dianggap menipu
diri agar selalu positif. Dinasihati, tersinggung. Tapi giliran mengeluh, minta
didengarkan. Terus, kita harus gimana dong? Kita sering lupa, melatih kesadaran
untuk berpikir positif itu penting. Merespons realitas dengan kepala dingin,
logika yang jernih, dan arah yang jelas itu perlu. Sebab dari situ, kita punya
ketahanan mental. Tentu, bukan untuk menghapus masalah tapi mengubah cara kita
memikulnya.
Sesederhana itulah cara mengelola pikiran relawan TBM Lentera Pustaka
di kaki Gunung Salak Bogor. Setelah berkiprah membimbing anak-anak yang
membaca, tetap komitmen dan konsisten merawat taman bacaaannya. Membenahi rak
buku dan bekerjasama, untuk menjaga kenyamanan anak-anak yang membaca dan
pengguna layanan lainnya. Datang ke taman bacaan, mengabdi secara sosial, dan
berbenah apa yang perlu dibenahi di TBM Lentera Pustaka. Begitu terus dan
diulang-ulang. Mengerjakan hal yang biasa dan sederhana di taman bacaan. “Selagi
konsisten, masalah apapun tidak boleh meruntuhkan pengabdian” kata relawan TBM
Lentera Pustaka.
Jadi relawan TBM, memang tanpa pamrih. Tidak ada imbalannya. Tidak punya
honor seperti supir mobil MBG. Tapi kerja sosial itulah yang membentuk pola hidup
mereka. Sebab hidup tidak bergerak berdasarkan niat, tapi berdasarkan pola. Kebiasaan
sehari-hari, cara berpikir, dan gimana merespons sehingga membentuk pola yang
terus berulang. Hingga suatu saat nanti, pola itulah yang pada akhirnya
mengarahkan hidup ke tempat yang lebih baik.
Bagi relawan TBM Lentera Pustaka, mimpi tanpa konsistensi hanyalah
angan-angan. Banyak tujuan besar berhenti di tengah jalan karena tidak mampu
menjaga kebiasaan kecil yang konsisten. Di situlah disiplin bekerja, bukan
sebagai paksaan. Melainkan komitmen pada diri sendiri. Konsistensi memang
terasa sepele. Tetap mengabdi saat malas, tetap berusaha saat hasil belum
terlihat, dan tetap berjalan meski langkah terasa berat. Itu semua latihan pola
hidup, bukan jalan untuk sukses.
Sebab di sekitar kita, motivasi bisa datang dan pergi. Bantuan bisa ada
bisa tidak. Tapi sikap konsisten itulah yang menjaga arah. Tanpa konsistensi,
tujuan apapun akan selamanya berada di seberang. Salam literasi!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar