Nama saya Rina, HR Manager di sebuah perusahaan manufaktur dengan lebih dari 800 karyawan. Sudah 12 tahun saya bekerja di sini. Saya terbiasa mengurus kontrak, rekrutmen, pelatihan, hingga pensiun. Secara administratif, semuanya rapi. Secara manusiawi, tidak selalu sesederhana itu.
Suatu pagi, saya menerima email dari Pak Darto—mantan supervisor
produksi yang pensiun dua tahun lalu.
“Bu Rina, maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, apakah masih ada
program bantuan kesehatan dari perusahaan untuk pensiunan?”
Saya membaca email itu berulang kali.
Pak Darto adalah karyawan teladan. Tidak pernah bermasalah. Selama
bekerja, gajinya stabil, masa kerjanya panjang. Secara sistem, ia “aman”. Tapi
email itu memberi sinyal lain: ada yang tidak aman di fase setelah pensiun.
Saat Pensiun Terlihat “Selesai”.
Saya masih ingat hari terakhir Pak Darto bekerja. Kami menyerahkan
plakat, foto bersama, dan ucapan selamat sambil memotong tumpeng sebagai tanda
penghormatan. “Selamat menikmati masa pensiun, Pak,” kata saya waktu itu.
Sebagai HR, tugas saya selesai saat hak normatifnya dibayarkan: JHT
cair, uang penghargaan masa kerja beres, dan administrasi tuntas. Tidak ada
yang salah. Semua sesuai aturan.
Tapi kami jarang bertanya, “Setelah ini, Bapak siap hidup dari apa?”
Data yang Mulai Bicara.
Email Pak Darto bukan yang pertama. Dalam tiga tahun terakhir, saya
mencatat pola yang sama: Pensiunan menghubungi HR soal asuransi Kesehatan. Menanyakan
kemungkinan kerja paruh waktu. Atau bertanya soal pinjaman atau bantuan darurat.
Padahal saat masih aktif bekerja, mereka terlihat “mapan”. Saya mulai membuka
data internal:
- Usia pensiun
rata-rata: 55–56 tahun
- Harapan hidup: di
atas 70 tahun
- Artinya: 15–20 tahun
hidup tanpa gaji
Dan sebagian besar karyawan hanya bergantung pada JHT dari BPJS TK.
Sebagai HR, saya tersadar, kami terlalu fokus pada exit process,
tapi kurang pada life after exit.
Dilema HR: Tahu Risikonya, Tapi Terlambat Bertindak.
Kami pernah mengadakan sosialisasi pensiun. Sekali. Saat karyawan usia
50+. Materinya padat, waktunya singkat. Respon karyawan bisa ditebak, “Masih
lama, Bu”. “Anak saya belum lulus” atau “Nanti saja kalau gaji naik.”
Saya pun paham. HR sering kalah oleh urgensi jangka pendek. Tapi email
seperti dari Pak Darto membuat saya bertanya, apakah perusahaan sudah cukup
peduli, atau sekadar patuh aturan?
Titik Balik.
Saya akhirnya bertemu Pak Darto. Rambutnya lebih putih, badannya lebih
kurus. Ia tidak mengeluh, tapi matanya bicara. “Saya tidak kekurangan, Bu,”
katanya. “Hanya… sekarang semua harus dihitung. Kalau sakit, saya takut.” Kalimat
itu menempel di kepala saya.
Malam itu saya menyusun proposal ke direksi. Edukasi pensiun sejak usia
produktif. Program pensiun tambahan yang fleksibel. Dan peran HR bukan hanya
mengurus pensiun, tapi mempersiapkan pensiunan. Bukan sekadar benefit. Tapi perlindungan
martabat karyawan setelah mereka berhenti bekerja alias pensiun.
Refleksi Seorang HR. Kini, setiap kali ada karyawan baru bergabung,
saya tidak hanya bicara KPI dan karier. Saya juga bilang., “Karier Anda di sini
mungkin 30 tahun. Tapi hidup Anda setelah itu bisa 20 tahun lagi.” Pensiun
bukan urusan karyawan semata. Bagi HR, ini soal keberlanjutan kesejahteraan, reputasi
perusahaan, dan tanggung jawab jangka panjang.
Karena yang benar-benar diingat karyawan bukan hanya gaji terakhir
mereka. Tapi bagaimana perusahaan mempersiapkan mereka untuk hidup setelahnya.
Karenanya, HR atau karyawan, sama-sama perlu sadar akan pentingnya
mempersiapkan masa pensiun, setelah masa kerja berakhir.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar