Dalam bukunya “The Gifts of Imperfection”, BrenĂ© Brown menulis bahwa ketenangan sejati lahir ketika seseorang berani menerima dirinya apa adanya, bukan orang yang berhasil memenuhi semua standar sempurna. Kebahagiaan tidak datang dari mengendalikan setiap situasi. Tapi dari keberanian menerima realitas dan mampu menjalani apapun yang terjadi dalam hidup kita. Buku itu menekankan bahwa ketenangan bukan hasil dari hidup yang rapi tapi dari hati yang bisa menerima ketidaksempurnaan dengan lapang.
Hari ini, banyak orang ingin terlihat tenang. Membangun citra agar
dianggap baik-baik saja, berjuang keras untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Dan
tidak lagi bisa hidup apa adanya. Seolah-olah semuanya berjalan dengan
sempurna. Lupa, bahwa ketidak-sempurnaan justru membuat hidup lebih manusiawi. Agar
ada ruang untuk empati, peduli, dan cinta. Jika semuanya selalu berjalan sesuai
rencana, mungkin kita tidak akan belajar apa arti menerima, memaafkan, bahkan
memahami.
Saking ingin sempurnanya, banyak orang takut salah. Kita lupa, tidak ada
tidak ada orang yang tumbuh tanpa tersandung. Salah itu pelajaran penting untuk
memperbaiki diri. Kesalahan adalah bagian dari kemajuan. Maka, sudah saatnya
kita berhenti menghukum diri karena tidak sempurna. Tidak ada orang yang
sempurna, sebab tidak sempurna itulah yang manusiawi.
Karenanya, buanglahh keinginan untuk selalu disukai semua orang. Kita tidak
akan pernah bisa membuat semua orang puas. Semakin keras kita mencoba, semakin
jauh kita dari diri kita sendiri. Ketenangan itu lahir saat kita berhenti
mencari validasi, dan mulai hidup sesuai dengan passion dan nilai-nilai yang kita
yakini. Faktanya, boleh kok hal-hal kecil berjalan tidak sesuai rencana. Tidak
semua langkah harus tepat. Terkadang, kita hanya perlu berjalan pelan,
menikmati proses tanpa memaksa hasil. Karena, apapun tidak menuntut kita untuk
sempurna. Tapi cukup untuk terus berproses.
Banyak dari kita lelah bukan karena hidup terlalu berat. Tapi karena ingin
semua hal berjalan sempurna. Kita ingin aktivitas terlihat tanpa cacat, hubungan
tanpa konflik, pekerjaan tanpa kesalahan, dan masa depan tanpa kegagalan.
Padahal, hidup tidak diciptakan untuk selalu mulus. Hidup hanya diciptakan
untuk dijalani, bukan untuk dikendalikan sepenuhnya. Selagi ada niat dan
ikhtiar sudah baik ya kerjakan saja. Selebihnya serahkan kepada-Nya.
Seperti saya dan relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak
Bogor. Berkiprah di taman bacaan dan literasi, semuanya dijalani sepenuh hati.
Ada komitmen dan tetap konsisten berada di tengah-tengah anak-anak yang
membaca. Bukan untuk dipuji atau dikagumi. Tapi untuk menjadikan taman bacaan
sebagai tempat pengabdian dan jalan hidup. Berproses dan melatih ruang empati. Belajar
menghargai diri sendiri tanpa perlu membuktikan apa pun, kepada siapapun. Tenang
saat berada di taman bacaan, itu sudah cukup.
Hidup tenang itu bukan berarti hidup tanpa masalah. Tapi hidup dengan
hati yang tidak lagi memaksa segalanya harus berjalan sesuai kemauan. Berbuat bukan
untuk terlihat sempurna. Cukup hadir,
belajar, bertindak, dan menerima bahwa yang tidak sempurna pun bisa indah jika
kita menjalaninya dengan sepenuh hati.
Sebab “being imperfect is actually perfect”, menjadi tidak sempurna adalah
sempurna. Salam literasi!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar