Sabtu, 24 Januari 2026

Pengen Tenang, Ini Risikonya

 

Mungkin, di tengah kesibukan dan kepadatan aktivitas. Salah satu doa yang sering dilantunkan adalah memohon ketenangan lahir-batin, tenang pikiran dan perasaan. Tapi kuat sering lupa, tenang tidak selalu datang dalam bentuk yang lembut. Kadang tenang juga bisa hadir lewat jarak. Orang-orang yang dulu terasa dekat perlahan menjauh, obrolan yang dulu ramai tiba-tiba sunyi. Begitulah tenang, terasa seperti kehilangan dan seolah ada yang diambil tanpa izin.

 

Kenapa begitu? Karena tidak semua kehadiran membawa damai. Harus diakui, hari ini banyak hubungan yang diam-diam menguras pikiran, membuat hati terus gelisah, dan memaksa kita jadi versi diri yang tidak jujur. Karena pergaulan, banyak orang berubah tidak lagi jadi diri sendiri. Tidak apa adanya tapi ada apanya dalam bergaul.

 

Kembali lagi, karena doa kita minta tenang. Maka Allah tahu betul sumber kegaduhan kita, sehingga memohon untuk tenang. Maka satu per satu disingkirkan. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk menyelamatkan kita. Ketenangan memang sering dimulai dari pengurangan, bukan penambahan. Terkadang, tenang itu karena sedikit teman bukan banyak teman.

 


Begitu ada jarak, barulah terasa lapangnya. Pikiran tidak lagi sesesak dulu, hati punya ruang untuk bernapas. Lebih tenang dan lebih tenteram. Kita belajar bahwa dijauhkan bukan selalu ditolak. Bisa jadi itu bentuk penjagaan. Karena kadang, agar jiwa benar-benar tenang, beberapa orang memang harus pergi dari kehidupan kita.

 

Maka untuk tenang, tidak usah larut dalam pergaulan. Biasa saja, dan tidak usah euforia. Tidak perlu berkilau dalam bergaul bila akhirnya tidak tenang, dan menjauh dari diri sendiri. Dan akhirnya, hanya ada satu cara menuju tenang, yaitu batasi diri dari yang tidak terlalu penting dan berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Salam literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar