Mungkin, di tengah kesibukan dan kepadatan aktivitas. Salah satu doa
yang sering dilantunkan adalah memohon ketenangan lahir-batin, tenang pikiran
dan perasaan. Tapi kuat sering lupa, tenang tidak selalu datang dalam bentuk
yang lembut. Kadang tenang juga bisa hadir lewat jarak. Orang-orang yang dulu
terasa dekat perlahan menjauh, obrolan yang dulu ramai tiba-tiba sunyi.
Begitulah tenang, terasa seperti kehilangan dan seolah ada yang diambil tanpa
izin.
Kenapa begitu? Karena tidak semua kehadiran membawa damai. Harus
diakui, hari ini banyak hubungan yang diam-diam menguras pikiran, membuat hati
terus gelisah, dan memaksa kita jadi versi diri yang tidak jujur. Karena
pergaulan, banyak orang berubah tidak lagi jadi diri sendiri. Tidak apa adanya
tapi ada apanya dalam bergaul.
Kembali lagi, karena doa kita minta tenang. Maka Allah tahu betul
sumber kegaduhan kita, sehingga memohon untuk tenang. Maka satu per satu
disingkirkan. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk menyelamatkan kita. Ketenangan
memang sering dimulai dari pengurangan, bukan penambahan. Terkadang, tenang itu
karena sedikit teman bukan banyak teman.
Begitu ada jarak, barulah terasa lapangnya. Pikiran tidak lagi sesesak
dulu, hati punya ruang untuk bernapas. Lebih tenang dan lebih tenteram. Kita
belajar bahwa dijauhkan bukan selalu ditolak. Bisa jadi itu bentuk penjagaan.
Karena kadang, agar jiwa benar-benar tenang, beberapa orang memang harus pergi
dari kehidupan kita.
Maka untuk tenang, tidak usah larut dalam pergaulan. Biasa saja, dan
tidak usah euforia. Tidak perlu berkilau dalam bergaul bila akhirnya tidak
tenang, dan menjauh dari diri sendiri. Dan akhirnya, hanya ada satu cara menuju
tenang, yaitu batasi diri dari yang tidak terlalu penting dan berhentilah
mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar