Hari-hari ini, ada yang mendapat THR (Tunjangan Hari Raya) buat lebaran. Tapi Sejarah membuktikan, banyak uang THR hanya dipakai untuk memebli keinginan dan perlengkapan kebutuhan lebaran. THR habis hanya sebatas lebaran. Dan setelah lebaran, kantong kempes lagi alias tidak punya uang. Selain memprihatinkan, cara memeperlakukan uang THR mungkin harus ditinjau ulang.
THR memang
untuk kebutuhan hari ini, di saat momen lebaran. Tapi di sisi lain, kita perlu
menyadari. Bahwa faktanya, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak
siap pensiun atau berhenti bekerha. Maka wajar, 1 dari 2 pensiunan atau lansia
di Indonesia hanya mengandalkan tarnsferan anak-anaknya untuk biaya hidup
sehari-hari (ADB, 2024). Bahkan survei lain menyebut, 7 dari 10 pensiunan di
Indonesia mengalami kesulitan finansial di hari tua. Akibat tidak adanya perencanaan
masa pensiun atau tidak punya tabungan dana pensiun.
THR,
sisihkan untuk dana pensiun. Bukan sisakan untuk dana pensiun. Bila mau nyaman
di hari tua, mulailah menyisihkan uang THR atau gaji untuk dana pensiun. Jangan
sisanya untuk dana pensiun. Kalau ada sisia, bila tidak ada sisa berarti tidak
menabung untuk hari tua. Karena itu, cara pandang tentang dana pensiun adalah
berani menyisihkan untuk dana pensiun, bukan menyisakan untuk dana pensiun. Belanja
untuk keinginan sudah pasti tidak aka nada habisnya. Maka harus berani menyisihkan
untuk hari tua yang lebih baik.
Sudah pasti,
untuk mewujudkan hari tua atau masa pensiun yang sejahtare memerlukan strategi dan
keberanian. Untuk menyisihkan sebagian gaji atau THR untuk dana pensiun. Bukan
sisa gaji untuk dana pensiun. Karena ingat, di masa pensiun atau hari tua, kita
tidak bekerja lagi maka tidak ada gaji yang diterima setiap bulan. Lalu, dari
mana uang untuk biaya hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Tentu, hanya
dari uang yang ditabung di dana pensiun yang kita miliki. Jika tidak punya, maka
akan bergantung kepada anak-anak. Bila si anak punya uang mungkin tidak
masalah. Tapi bila si anak hidipnya pas-pasan, pasti akan jadi masalah baru di
keluarga.
Maaf, tidak
sedikit pensiunan di hari tua yang bermasalah secara keuangan. Akibat selama bekerja
tidak mau menabung di dana pensiun. Jatanya, gaji habis untuk biaya hidup
sehari-hari dan kebutuhan anak dan keluarag. Memang di situlah seninya menabung,
bagaimana cara kita tetap bisa menabung untuk masa pensiun sekalipun kebutuhan
hari-hari tetap bisa terpenuhi. Yang jelas, menabung untuk masa pensiun harus “dibaranikan”
bukan “diabaikan”. Karena masa pensiun, sejatinya bukan “gimana nanti” tapi “nanti
gimana”. Gimana nanti bila kita sudah tua dan tidak bekerja lagi?
Saat pensiun
nanti, kita membutuhkan uang bulanan sebesar 40% dari gaji terakhir saat
bekerja (rekomendasi ILO) untuk bisa hidup layak di hari tua. Bahkan sebagian
orang justru memiliki standar 70% dari gaji terakhir (LIMRA). Tapi sayang,
faktanya di Indonesia, seorang pensiunan hanya mampu memenuhi 10% dari gaji
terakhir (bila punya JHT + JP BPJS). Besaran uang pensiun yang diperoleh masih
sangat rendah, jauh dari kebutuhan yang seharusnya. Bagaimana dengan kita,
sudah cukupkah dana pensiun yang kita
miliki?
Apa untungnya
menabung di dana pensiun? Untungnya adalah 1) punya uang pensiun yang pasti
saat dibutuhkan nati, 2) ada hasil investasi yang optimal karena ditabung dalam
jangka Panjang, dan 3) ada insetif pajak saat manfaat pensiun dibayarakn. Dan
yang paling penting, siapapun yang memiliki dana pensiun setidaknya punya
ketenangan hati dan pikiran untuk hari tua, Tidak gelisah atau stres memikirkan
hari tuanya sendiri. Maka persiapkan masa oensiun kita sejak dini.
Berapa tabungan
dana pensiun yang disisihkan? Tentu bebas saja, asalkan ada yang bisa
disisihkan untuk dana pensiun. Boleh 10% dari gaji, boleh 20% dari gaji.
Intinya menabung untuk masa pensiiun, sebagai strategi persiapan untuk hari tua
di saat tidak bekerja lagi. Karena cepat atau lambat, siapapun pasti akan
pensiun. Jadi, menyisihkan bukan menyisakan untuk dana pensiun. Agar kerja yes,
pensiun oke. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #LSPDanaPensiun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar