Seusai kuliah Menulis Kreatif kemarin (22/3/2025), saya dan mahasiswa berfoto sambil membaca buku. Dan setiap kuliah saya, mahasiswa wajib membawa buku bacaan di tas. Agar buku bacaan “tidak kalah” dibandingkan tisu basah, aksesori kecantikan, atau kabel charger. Setuju nggak?
Ya, mahasiswa wajib membawa buku bacaan. Karena buku adalah wadah bagi
dunia ide, ruang tidak terbatas bagi pemikiran yang bebas. Ruang pemicu
kreativitas. Di dalam pikiran, gagasan-gagasan bersemayam, tumbuh, dan
berkembang dalam jiwa-jiwa yang kreatif dan terbiasa berpikir.
Namun, kebebasan berpikir tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh
kultur, pergaulan, tradisi, dan kreativitas si manusianya. Sebab, sesuatu yang
dianggap baik di suatu masa atau tempat, belum tentu tetap baik di masa dan
tempat lain. Semuanya tergantung pengalaman, nilai, dan emosi yang
menyertainya. Maka untuk menyeimbangkannya dibutuhkan kreativitas.
Zaman begini, opini bisa menggiring pikiran manusia. Bikin gaduh,
berisik, dan saling berjuang untuk kebenaran versinya masing-masing. Karenanya
diskusi, berbagi pengalaman, dan belajar ditambah kreativitas menjadi penting.
Agar kita tidak salah jalan, tidak terbuai daya hidup dan hanya berjalan di
tempat.
Buku dan kreativitas sama pentingnya. Karena sebagus apa pun sebuah
buku, ia tetap benda mati. Seperti pedang, kertas, pulpen, atau uang. Buku baru
bernyawa ketika ia bersinergi dengan kreativitas, intuisi, naluri, dan
kesadaran yang hidup dalam sanubari manusia. Maka di situlah, ada proses
berpikir dan memikirkan. Karenanya, kreativitas bisa hidup bila ditopang
kemampuan berpikir kritis, kepekaan emosi, dan daya imajinasi.
Memang, pikiran manusia sering kali tidak murni, masih diselimuti
kepentingan materi – duniawi. Tapi dari buku, siapapun bisa mengendalikan
pikirannya dan memacu kreativitasnya. Untuk berubah menjadi lebih baik, lebih
bermanfaat. Maka, mari terus berpikir, terus kreatif, dan terus membaca buku.
Karena dunia kreatif adalah dunia yang hidup, jika kita bersedia menyelaminya
dengan kesadaran dan orisinalitas.
Ketahuilah, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu
yang mengubah keadaannya diri (Ar-Ra’d: 11). Itu berarti dibutuhkan ikhtiar dan
perubahan positif dalam diri kita sendiri. Diantaranya melalui buku, belajar,
dan kreativitas. Jadi, apakah kita masih berpikir dan kreatif hingga kini? Salam
literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar