Seorang kawan cerita, setahun lagi akan pensiun. Dia kerja di perusahaan swasta. Gaji lumayan dan punya punya dana pensiun. Kalau dihitung-hitung, katanya uang pensiun dari kantor ditambah DPLK-nya bisa mencapai Rp. 400 juta. Tapi dia tetap khawatir, takut tidak cukup uang segitu untuk pensiun.
Makanya dia
bilang, sekarang ini hidupnya lebih irit. Sudah jarang nongkrong di kafe, gaya
hidup mulai dikurangi, Dan yang paling dia takutkan. Karena istrinya begitu dikasih
tahu setahun lagi akan pensiun langsung shock. Mentalnya kena, karena bingung. Masih
punya gaji saja terkadang punya masalah keuangan, apalagi nanti sudah pensiun
yang tidak ada gaji lagi. Kata istrinya, susahnya orang yang pensiun itu “hilangnya
penghasilan bulanan”, sementara biaya hidup tetap jalan terus. Begitu cerita kawan
saya menjelang pensiun.
Cerita jelang
pensiun atau mas apensiun memang nggak aka nada habisnya. Seperti kawan saya itu,
padahal masih satu tahun lagi pensiun. Bakal dapat uang pensiun dari kantor ditambah
punya DPLK yang akan cair saat pensiun. Khawatir dan gelisah, karena tidak akan
kerja lagi dan tidak punya gaji bulanan lagi. Belum lagi, riset yang menyebut 1
dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan tranferan dari anaknay setiap bulan.
akibat tidak mandiri secara finansial di hari tua. Fenomena sandwich
generation. Sementara usia harapan hidup sekarang sudah mencapai 73 tahun.
Kawan saya akan pensiun di usia 57 tahun, maka masih ada 16 tahun masa kehidupan
di hari tua tanpa kerja tanpa gaji. Bila kekhawatirannya benar, akibat uang pensiun
tidak cukup, bisa jadi dia akan bekerja lagi di masa pensiunnya. Untuk menutupi
kekuarangan biaya dan kebutuhan di hari tua.
Jadi, memang ada
benarnya bila “Pensiun disiapin aja mental bisa kena, apalagi nggak
disiapin?”. Karena masa pensiun bukan hanya soal finansial, tetapi juga
perubahan besar dalam identitas, rutinitas, dan peran sosial seseorang. Bahkan
bagi mereka yang sudah menyiapkan dana pensiun dengan baik, tetap ada potensi
“shock” psikologis ketika kehilangan peran kerja, jaringan sosial, dan rasa
produktif. Inilah yang sering disebut sebagai post-retirement adjustment,
di mana individu harus beradaptasi dengan kehidupan baru yang lebih longgar
namun juga bisa terasa kosong.
Jika pensiun
tidak disiapkan sama sekali, baik dari sisi keuangan maupun mental, dampaknya
bisa jauh lebih berat. Ketidakpastian ekonomi dapat memicu stres
berkepanjangan, sementara hilangnya rutinitas kerja bisa menimbulkan rasa tidak
berguna, kesepian, bahkan depresi. Dalam banyak kasus, individu menjadi
bergantung pada keluarga, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan relasi dan
menurunkan kualitas hidup di hari tua. Jadi, tanpa persiapan, pensiun bukan
lagi fase menikmati hidup, tetapi justru menjadi fase bertahan hidup.
Karena itu,
persiapan pensiun idealnya mencakup dua hal sekaligus: kesiapan finansial dan
kesiapan psikologis. Selain menabung atau berinvestasi, penting juga merancang
aktivitas pasca-pensiun seperti hobi, kegiatan sosial, atau bahkan pekerjaan
ringan agar tetap merasa bermakna. Pensiun yang sehat adalah pensiun yang tetap
aktif, mandiri, dan memiliki tujuan hidup. Jadi, kalau yang sudah siap saja
masih bisa “kena mental”, maka tidak menyiapkan masa pensiunnya sama sekali
jelas berisiko jauh lebih besar.
Maka siapkanlah
masa pensiun kita sendiri. Mau seperti apa dan bagaimana di hari tua? Sebab, pensiun
disiapin aja mental bisa kena, apalagi nggak disiapin?”. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar