Ternyata, kerja bukan hanya urusan kantong. Bukan hanya soal uang yang cukup. Tapi soal psikologis dan gimana cara mempersiapkan masa pensiun.
Saat ngobrol bareng
teman-teman pekerja yang usianya di kisaran 40–55 tahun (sudah di atas 15 tahun
bekerja), banyak dari mereka yang merasa kehilangan arah. Sebab, selama ini fokus
utamanya hanya bekerja dan memenuhi kebutuhan jangka pendek. Tidak punya prioritas,
apa yang harus dilakukan dan disiapkan di luar urusan kerja.
Salah satu di
antara teman pun bertanya. Kenapa sih gue jadi kehilangan arah justru saat lagi
bekerja, padahalusia pensiun sebentar lagi datang? Dari diskusi bareng,
akhirnya alasan yang jadi sebab pekerja gampang kehilangan arah di usia 40-55
tahun adalah:
1. Hidup si pekerja terlalu reaktif, hidupnya sudah
kehilangan fokus. Setiap bangun pagi, template-nya buka HP alias scroll grup WA
– akhirnya terseret ke dunia luar. Tanpa disadari, setiap hari fokusnya “fitur
HP”, tidak pernah bertanya “gue mau ke ngapain hari ini?”
2. Si pekerja menyerap terlalu banyak
kehidupan orang lain. Kerjanya cuma memantau hidup orang, mengecek pencapaian
orang, dan timeline orang. Sampai lupa untuk menentykan timeline diri sendiri. Alur
hidupnya tergantung atau menjiplak orang lain. Lupa sama ikhtiar dan pencapaian
diri sendiri.
3. Hari-hari
dijalani tanpa ada “essential list”. Semua hal dianggap penting, sampai-sampai
kehilangan fokus. Lupa kalau semua hal dianggap penting, konsekuensinya tidak
ada hal yang benar-benar penting. Akhirnya, kita kehabisan energi buat hal yang
tidak memberi apa-apa ke masa depan. Cuma jalani rutinitas doang.
Bila begitu
keadaannya, solusinya perlu “detox” diri sendiri. Ambil kendali hidup tahap
demi tahap, sedikit demi sedikit. Gunakan HP cuma untuk alat komunikasi, bukan
menyerap kehidupan orang lain. Bikin tujuan yang mau dicapai dalam 5 atau 10
tahun lagi secara nyata (bukan tujuan hidup karena abstrak dan tidak bisa
diukur). Bebaskan distraksi akibat pakai HP yang berlebihan atau tidak penting.
Dan kurangi konsumsi konten, tambah konsumsi diri sendiri. Tanya pada diri
sendiri setiap malam: "Apa hal yang bikin gue lebih baik hari ini apa yang
sudah gue siapkan untuk masa pensiun gue sendiri? Gimana caranya bisa tercapai?”
Kalau kita bingung menjawab pertanyaan itu, terbukti selama ini kita hidup dari
orang lain.
Usia sudah di
40-55 tahun, kerja sudah di atas 15 tahun. Kita sudah siap apa untuk berhenti
bekerja? Biin “essential list”, simpan dan cek setiap hari sudah sampai mana
pencapaiannya? Biar kita ingat arah hidup kita sendiri. Distraksi HP itu bahaya
banget, bikin kita sibuk tapi kosong. Ingat, hidup kita tidak akan berubah
karena insight dari orang lain. Yang bikin kita berubah itu Cuma “keputusan +
eksekusi kecil yang diulang terus”. Sederhana kan?
Banyak pekerja
usia 40–55 tahun merasa kehilangan arah karena selama puluhan tahun fokusnya
hanya bekerja dan memenuhi kebutuhan jangka pendek. Tanpa membangun visi
kehidupan setelah pensiun. Ketika masa pensiun terasa dekat, baru menyadari
bahwa identitas diri selama ini melekat pada pekerjaan semata. Tanpa persiapan
psikologis, tanpa budaya personal, bahkan tanpa perencanaan finansial yang
matang. Akhirnya cemas dan khawatir, “Nanti mau jadi gimana?” atau “Seperti apa
hidup gue setelah berhenti kerja?”. Terlalu banyak waktu terbuang percuma dan ngurusin
hal-hak yang tidak penting. Lupa, kalau masa pensiun itu sama pentingnya dengan
masa bekerja.
Pekerja di usia
40–55 tahun itu periode transisi. Kerja sudah lumayan lama tapi tekanan ekonomi
juga tinggi, seperti tanggungan keluarga, biaya pendidikan anak, hingga
kesehatan yang mulai menurun. Makanya harus fokus pada diri sendiri, bukan
pergaulan apalagi menyerap kehidupan orang lain. Terdistrasi oleh HP atau
medsos tanpa punya “essential list” yang konkret. Mau apa dan akan seperti apa?
Faktanya hari
ini, 9 dari 10 pekerja tidak siap pensiun atau berhenti kerja. Dan 8 dari 10 pensiunan
itu mengandalkan urusan finansial dari anggota keluarga yang bekerja. Akibat tidak
mandiri secara finansial di hari tua. Terjebak pada lingkaran setan bernama “sandwich
generation”. Akibatnya di usia 40-55 tahun, bukannya merasa siap memasuki fase
baru kehidupan justru mengalami kebingungan arah, kehilangan rasa percaya diri,
bahkan stres karena ketidakpastian finansial dan minimnya gambaran tentang
tujuan hidup yang konkret setelah pensiun. Jadi, mau bagaimana dong?
#YukSiapkanPensiun
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar