Kita sering lupa, adanya siklus batin manusia tentang rakus, rusak, dan rasuk. Bukan sekadar soal moral tapi tentang bagaimana satu kebiasaan buruk perlahan menumbuhkan kebiasaan buruk yang lain.
Ada tiga serangkai yang menggerogoti manusia. Sifat rakus (kerakusan), rusak (kerusakan), dan rasuk (kerasukan). Karena “kerakusan” membuat manusia lupa batas. Ia membutakan hati, mengikis nurani, dan perlahan mengubah kebutuhan menjadi ketamakan. Dari kerakusan maka lahir kerusakan, bukan hanya pada alam atau sistem, tapi pada jiwa. Ketika seseorang mulai percaya bahwa dia punya kekuasaan meraih semuanya demi keinginannya, maka yang rusak pertama bukanlah dunia, melainkan dirinya sendiri. Ujungnya, berakhir pada kerasukan: keadaan ketika seseorang tidak lagi dikendalikan oleh akal sehat atau nilai yang dulu ia yakini. Ia berjalan, tapi bukan dirinya yang memegang kemudi; hasrat dan muslihat yang sudah menjelma jadi tuan rumah. Ini lebih parah dari sekadar kerasukan setan.
Terlihat jelas, bagaimana pola rakus → rusak → rasuk itu bekerja
dalam kehidupan, bukan sekadar konsep abstrak. Kasus korupsi besar terjadi dari
ambisi ke kehancuran. Kasus korupsi tata niaga timah Rp. 300 T yang
menyeret nama Harvey Moeis dan melibatkan PT Timah, korupsi CPO, korupsi
pejabat pajak dan bea cukai. Polanya dimulai dari “rakus” akan keinginan
memperkaya diri lewat proyek dan pengaturan illegal sehingga jadi sebab “rusak”
sistem dan negara rugi triliunan, masyarakat sekitar tambang menanggung dampak
lingkungan akibat “rasuk” ketika nurani sudah kalah oleh kebohongan,
manipulasi, dan pembenaran diri menjadi hal biasa. Tentu, siklus ini tidak
langsung terjadi sekaligus. Biasanya dimulai dari “sedikit saja”, lalu membesar
karena tidak pernah dihentikan.
Begitu pula nafsu kekuasaan + ego menyebabkan tragedi yang lahir
dari dalam. Kasus pembunuhan berencana yang melibatkan Ferdy Sambo juga
memperlihatkan pola “rakus” bukan soal uang, tapi rakus kuasa, lalu “rusak” di
mana struktur hukum dan kepercayaan publik ikut tercoreng akibat “rasuk”
keputusan-keputusan ekstrem diambil demi menutup kesalahan, sampai mengorbankan
nyawa orang lain. Ini contoh bagaimana
“kerasukan” bisa berarti hilangnya kendali moral akibat ego yang dibiarkan
tumbuh.
Kerakusan melahirkan kerusakan. Kerusakan membuka pintu kerasukan.
Tiga serangkai yang selalu datang berurutan, dan sering kali tanpa kita sadari,
mereka mengetuk dari dalam diri kita sendiri.
Kerakusan melahirkan kerusakan. Kerakusan bukan cuma soal harta
atau materi. Ia bisa berupa ambisi berlebihan, haus pengakuan, ingin selalu
menang, atau tidak pernah merasa cukup. Saat “ingin lebih” mengalahkan “cukup”,
kita mulai mengorbankan banyak hal: nilai, empati, kesehatan, relasi. Di titik
ini, kerusakan mulai muncul—pelan, sering tak terasa.
Kerusakan membuka pintu kerasukan. Kerusakan di sini bisa berupa
luka batin, kebiasaan buruk, atau hati yang lelah dan kosong. Ketika fondasi
diri rapuh, hal-hal negatif mudah masuk: iri, dengki, amarah, kebencian, putus
asa. Inilah yang disebut “kerasukan”—bukan selalu dalam arti mistis, tapi
ketika pikiran dan emosi gelap mengambil alih kendali diri.
Dan yang paling berbahaya: semuanya datang dari dalam. Kita sering
mengira ancaman datang dari luar: orang lain, keadaan, atau sistem. Padahal,
tiga serangkai ini biasanya berawal dari ruang terdalam diri sendiri: keinginan
yang tidak terkendali, pembenaran kecil yang diulang-ulang, lalu kebiasaan yang
membentuk karakter. Makanya dikatakan mereka “datang berurutan dan mengetuk
dari dalam”.
Ketahuilah, kehancuran besar hampir selalu diawali oleh kelengahan
kecil. Kalau kerakusan dijaga sejak awal dengan rasa cukup, kesadaran diri, dan
kejujuran pada hati maka rantai tigak serangkai bisa diputus. Tapi kalau
dibiarkan, ia tumbuh diam-diam, sampai suatu hari kita sadar: kita bukan lagi
versi terbaik dari diri kita sendiri.
_cropped_processed_by_imagy.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar