Kisah pilu menyelimuti langit Ngada NTT, ketika seorang anak SD kelas IV gantung diri akibat tidak bisa membeli buku dan pena. Sesederhana itukah? Bisa jadi iya, karena mungkin si anak juga tidak ada tempat aktualisasi diri. Ke mana harus bisa lebih dekat dengan buku? Selain persoalann kemiskinan yang ekstrem dan hilangnya kepedulian pemerintah daerah terhadap warganya.
Terkadang, bahagianya anak-anak tidak selalu soal uang. Tapi
tersedianya akses bacaan, ada tempat untuk bersosialisasi dan membaca buku. Kebahagiaan
dan masa depan anak nggak cuma ditentukan oleh uang. Tapi oleh kesempatan
mereka untuk belajar dan membayangkan dunia, buku-buku bacaan adalah pintu
masuknya. Bacaan membuka dunia, bukan cuma dompet. Anak yang punya akses buku
bisa “pergi” ke mana-mana: ke masa depan, ke masa lalu, ke kehidupan orang
lain. Imajinasi, empati, dan rasa ingin tahunya tumbuh. Itu bikin mereka merasa
kaya pengalaman, meski secara materi sederhana bahkan miskin.
Akses bacaan, suka tidak suka adalah soal “keadilan kesempatan”. Tidak semua
anak lahir di keluarga berduit. Tapi semua anak berhak punya kesempatan
berkembang. Perpustakaan, taman bacaan, pojok baca di mana pun bisa jadi jembatan
agar anak dari latar belakang mana pun bisa bermimpi setinggi yang sama. Bisa terhibur
di kala sedih, bisa punya alternatif ketika tidak bisa beli buku atau pena. Maaf
ya, daripada kasih makan kenyang anak-anak sekolah lewat MBG, lebih baik sediakan
lebih banyak tempat-tempat anak bersosialisasi dan membaca. Di samping menggratiskan
sekolah dan bebaskan biaya apapun anak-anak yang secara ekonomi tidak mampu.
Anak bisa diperkuat secara mental dan emosional lewat membaca, melalui
buku-buku bacaan. Momen anak dibacakan cerita sebelum tidur, atau anak
tenggelam membaca buku favoritnya pasti menciptakan rasa aman dan nyaman.
Kebahagiaan anak sering lahir dari rasa diperhatikan, bukan dari harga barang. Anak
gampang senang bila ada tenpat yang memfasilitasi kegemarannya, sekalipun main
di taman bacaan.
Kita sering lupa. Buku itu memberi alat, bukan hadiah instan. Uang bisa memberi
kesenangan cepat (mainan, gawai). Tapi bacaan memberi alat hidup:
kemampuan berpikir, memahami emosi, bahkan memecahkan masalah. Anak yang bisa
membaca dengan baik cenderung lebih percaya diri dan mandir, tidak mudah
frustrasi. Mentalitas ini penting untuk anak-anak dan berlaku jangka panjang.
Apapun alasannya, bahagia itu bukan soal banyaknya uang. Tapi cukupnya hati dan rasa syukur. Rumah kecil bisa terasa luas kalau hatinya lapang. Makan sederhana bisa terasa nikmat kalau dimakan bersama. Pakaian lama tetap indah jika dipakai dengan senyum. Banyak orang kaya merasa kurang, karena lupa nikmat yang sudah dimiliki. Kadang, kita atau anak-anak tidak perlu segalanya, cukup apa yang membuat hati tenang.
Anak-anak hari ini nggak cukup cuma pintar atau nilai rapor bagus. Tapi
butuh mental yang kuat, butuh tempat-tempat bersosialisasi seperti taman
bacaan. Datang bersama, duduk bersama dan membaca buku bersama. Tidak perlu
tempat mewah, tapi cukup tempat yang bisa membuat anak-anak betah. Memang tidak
mudah tapi dari situlah kebahagiaann anak-anak terjaga.
Uang memang bisa membeli fasilitas, tapi bacaan membentuk fondasi batin
dan masa depan anak. Anak yang punya akses bacaan punya “modal batin” untuk
bahagia, belajar, dan bertahan di hidup, apa pun kondisi ekonominya. Salam literasi!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar