Kamis, 28 September 2023

Filosofi Pensil dan Penggaris Versi Pegiat Literasi

Sahabat masih ingatkah kita. Siapa orang terdekat kita yang baru saja dipanggil oleh Allah SWT untuk kembali pada-Nya? Atau mungkin kawan kita yang minggu lalu masih chat WA tapi hari ini sudah pergi? Kawan yang kemarin masih ngobrol bareng tapi hari ini mendapat kabar sudah meninggal dunia. Meninggal dunia atau kematian, sama sekali tidak pernah bisa diduga.

 

Hampir setiap saat ada saja orang yang diminta kembali ke hadapan-Nya. Ada yang sehat wal afiat lalu jantungnya berhenti berdetak. Ada pula karena kecelakaan atau dianiaya orang lain. Ada pula yang karena sakit. Apapun sebabnya, kematian bisa terjadi pada siapapun. Karena memang “saat ajalnya sudah datang”. Kalau karena Bapak saya, karena jatah hidupnya di dunia sudah habis.

 

Jatah hidupnya di dunia sudah habis. Sudah waktunya malaikat maut untuk menjemput. Seperti dinyatakan, "Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu), Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun" (QS. Al A'raf:34).

 

Bila diumpamakan sahabat. Kita sebagai manusia itu diibaratkan pensil. Garis lurus adalah amal saleh yang dikerjakan dan penggaris adalah aturan-aturan Allah SWT yang telah ditetapkan-Nya. Maka tugas kita di dunia ini adalah “membuat garis yang lurus dengan menggunakan penggaris tersebut”. Jangan sampai garis yang kita buat justru belok, tidak lagi lurus. Garis yang keluar dari jalurnya. Sebagai pemilik “pensil”, Allah SWT bisa mengambil kita kapan saja jika Allah SWT berkehendak.

 


Maka pertanyaan penting hari ini, seberapa banyak garis lurus (amal saleh) yang sudah kita torehkan pada buku catatan amal perbuatan? Garis lurus atau garis bengkok. Sudahkah semua garis yang kita buat lurus sesuai dengan penggaris (aturan) yang Allah SWT tetapkan? Jika masih ada garis berbelok, segeralah hapus dan perbaiki kembali selagi masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaikinya.

 

Percayalah, batas umur setiap orang tidak ada yang tahu. Bahkan selalu menyisakan rahasia besar dalam kehidupan. Kita sebagai penonton tidak bisa menebak berapa centimeter garis umur yang Allah SWT tetapkan. Maka tugas kita hanyalah meninggalkan jejak-jejak garis lurus (amal sholeh) yang nanti bisa dijadikan pertanggungjawaban kelak.

 

Selagi masih ada waktu.Yuk kita perbaiki niat, baguskan ikhtiar, dan perbanyak doa. Agar sisa waktu yang ada, sebagai pensil (manusia) kita bisa gunakan untuk membuat garis lurus (amal sholeh) dengan penggaris (aturan) dari Allah SWT. Selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Agar tetap lurus, bukan bengkok. Seperti misalnya, mengabdi dan berkiprah di taman bacaan atau gerakan literasi. Seperti yang saya jalani saat ini di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sederhana sekali, dengan membimbing anak-anak yang membaca buku, mengajar kaum buta huruf, memfasilitasi warga untuk dekat dengan buku, berkiprah sosial bersama wali baca dan relawan, hingga menjadi driver motor baca keliling. Jadikan semua aktivitas sebagai “ladang amal”.

 

Hingga akhirnya, jangan takut bertanya. Sudah berapa banyakkah garis lurus yang kita buat hari ini? Dan ketahuilah, ada dua perkara yang bila dilakukan akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Yiatu 1) menerima sesuatu yang tidak disukai, jika sesuatu itu disukai Allah dan 2) membenci sesuatu yang disukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah SWT. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar