Jumat, 20 Juli 2018

Cara Keren Mendirikan Taman Bacaan versi TBM Lentera Pustaka


Ada banyak pertanyaan ditujukan ke TBM Lentera Pustaka, tentang gimana cara mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM)? Jika dijawab secara teori memang agak susah. Namanya juga teori, susah dipraktikin. Oleh karena itu, TBM Lentera Pustaka ingin berbagi informasi dan pengalaman dalam mendirikan taman bacaan masyarakat, persis seperti yang dialami TBM Lentera Pustaka yang didirikan pada 5 November 2017 lalu di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gunung Salak Bogor.

Namun sebelum membahas teknis soal cara mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM), hal penting dan pertama kali harus ditanamkan dalam diri kita adalah NIAT DAN KOMITMEN yang kuat untuk memberdayakan anak-anak dan masyarakat akan pentingnya menegakkan tradisi baca dan budaya literasi. Karena tanpa niat dan komitmen yang kokoh, sudah dapat dipastikan TBM yang didirikan tidak akan berumur panjang. Alhasil, tidak ada gunanya membangun TBM dan yang patut disesali bila anak-anak dan masyarakat sudah punya “harapan” tapi “terbunuh” karena TBM-nya tidak lagi beroperasi.


Sungguh, tidak mudah mendirikan dan mengelola TBM. Mendirikan TBM tidak mudah, apalagi mengelola TBM. Sama sekali tidak mudah dan tidak bisa dianggap remeh. Sementara orang di luar sana, baru sebatas ingin sebatas diskusi dan berwacana. Pegiat literasi yang ingin mendirikan TBM harus mampu mengubah “niat baik menjadi aksi nyata” dalam bentuk taman bacaan masyarakat.

Jadi, bagaimana cara mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM)?
Mengacu pada pengalaman dan aktivitas yang dijalani TBM Lentera Pustaka selama ini, berikut 8 tips yang bisa dan patut menjadi perhatian terkait dengan pendirian taman bacaan masyarakat.

1.     Lakukan riset dan studi kelayakan demografi. Mendirikan TBM, tentu tidak boleh gegabah. Karena faktanya sekarang, ada TBM yang beroperasi tapi pembacanya tidak ada. Atau sebaliknya, pembacanya sangat banyak tapi TBM-nya tidak ada. Untuk itu, sebelum memutuskan mendirikan TBM langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan “riset sederhana dan studi kelayakan demografi” terhadap anak-anak dan masyarakat di daerah tempat TBM akan didirikan. Riset dan studi kelayakan pada dasarnya untuk mengetahui: a) apakah ada anak-anak dalam jumlah yang banyak sebagai calon pembaca di daerah tersebut, 2) apakah masyarakat khususnya para orang tua mendukung di daerah tersebut, dan 3) apakah keberadaan TBM bisa membuat perubahan pada masyarakat tersebut?

2.     Membangun fasilitas TBM berupa tempat baca dan rak buku, nama TBM. Jika point 1 jawabnya “ada”, maka berikutnya perlu dibangun fasilitas TBM berupa tempat baca dan rak buku. Lokasinya bisa di teras rumah, halaman rumah, garasi atau lokasi yang disepakati. Fasilitas ini adalah infrastruktur penting untuk sebuah TBM. Oleh karena itu, harus dibangun terlebih dulu dengan optimal. Mengenai biaya dan fasilitasnya sih relative, bisa sederhana bisa mewah tergantung kepada pendiri/pengelola TBM. Jangan lupa berikan label “Nama TBM” sebagai promosi dan branding untuk TBM.


3.      Mengurus Perizinan Resmi Operasional TBM. Izin TBM jangan dianggap sepele. Biar tidak masalah di belakang, sebaiknya izin TBM harus dibuat. Izin TBM biasanya dikeluarkan oleh Pemda Tingkat II, Bupati atau Walikota. Namun dalam realisasinya bisa dimandatkan kepada Camat. Untuk perizinan diperlukan syarat diantaranya status tanah lokasi TBM, pernyataan dukungan warga masyarakat, dan surat keterangan dari RT/RW/Kepala Desa. Intinya, bila dokumen lengkap maka perizinan seharusnya bisa diperoleh.

4.      Pastikan Koleksi Buku Bacaan Tersedia. Jika sudah tersedia tempat baca dan rak buku serta izin TBM, hal yang paling mutlak harus disiapkan segera mungkin adalak koleksi buku bacaan untuk TBM. Artinya, TBM hanya bisa beroperasi bila ada bukunya. Maka koleksi buku bacaan dipastikan harus tersedia. Awalnya, koleksi buku bisa puluhan atau ratusan tapi sambil berjalan harus bisa mengoleksi buku dalam jumlah ribuan. Kenapa harus ribuan buku? Agar anak-anak yang baca tidak kehabisan buku bacaan alias selalu ada judul buku baru yang bisa dibaca. Gimana caranya dapat buku? Tentu ada banyak cara, bisa dengan meminta ke rekan-rekan yang punya buku alias donasi dari perorangan atau lembaga, bisa juga membeli sendiri buku yang diinginkan.


5.      Tentukan Jam Baca dan Petugas Jaga TBM. Sekalipun bersifat social, TBM tidak bisa dikelola sembarangan. Sebagai contoh, TBM yang baik, menurut saya, harus punya jam baca. Artinya, ada waktu ternetu yang ditetapkan untuk anak-anak membaca. Bukan sembarang waktu dan setiap hari bisa membaca. Karena TBM bukan perpustakaan. Dengan jam baca, anak-anak jadi punya jadwal khusus untuk ke TBM. Selain itu, TBM juga harus punya “petugas jaga” yaitu orang yang secara khusus melayani anak-anak saat jam bawa. Petugas jaga bisa dibilang sebagai orang yang “buka tutup warung TBM”. Tentu, petugas jaga juga harus dikasih honor agar punya tanggung jawab. Dan ingat, zaman now memang tidak ada yang mau gratisan. Jika ada relawan pun, biasanya relawan berisifat kadang-kadang tidak bisa hadir di setiap jam baca.

6.      Buat Event Bulanan TBM Biar Menarik. Event bulanan di TBM itu hanya produk marketing. Agar anak-anak selalu semangat dan termotivasi untuk membaca di setiap jam baca. Seperti di TBM Lentera Pustaka, event bulanan selalu digelar setiap bulan dengan menghadirkan “tamu dari luar” untuk sharing dan unjuk keterampilan di depan anak-anak, di samping menjadi ajang penghargaan untuk pembaca terbaik setiap bulannya dan “pesta rakyat” untuk anak-anak jajan gratis tukang jajajan keliling yang lewat. Event bulanan biasanya bikin anak-anak tertarik dan selalu ditunggu momentumnya.


7.      Bekerjasama dengan Korporasi/Komunitas. Patut diingat, TBM adalah pekerjaan sosial. Selain butuh komitmen dan waktu khusus, TBM juga membutuhkan biaya operasional khususnya untuk membeli buku baru dan kebutuhan TBM. Oleh karena itu, TBM harus menjalin kerjasama dengan pihka korporasi atau komunitas yang peduli terhadap gerakan tradisi baca dan budaya literasi. Sebutlah, mengajak CRS (Corporate Social Responsibilty) korporasi atau komunita. Agar mereka juga bisa ikut serta membantu TBM, toh untuk kebaikan anak-anak generasi penerus bangsa agar rajin membaca.

8.      Promosikan Aktivitas TBM Kita. Sekarang ini zaman milenial, zaman media sosial. Maka tidak ada salahnya, apapun aktivitas yang dilakukan di TBM harus dipromosikan atau disebarluaskan melalui media sosial. Hal ini penting agar kita bisa menunjukkan aktivitas TBM yang digemari anak-anak dan berdampak langsung buat masyarakat. Promosikan tiap jejak kebaikan yang dibuat oleh TBM, jangan mempromosikan berita bohong atau kebencian di media sosial. TBM itu ada untuk kemaslahatan umat, maka buatlah orang lain tahu aktivitas yang ada di TBM.

Itulah 8 cara mendirikan TBM (Taman Bacaan Masyarakat) versi TBM Lentera Pustaka. Tentu, dasarnya bukan teori harus gini harus gitu. Tapi itu semua adalah tahapan yang memang dilakukan oleh TBM Lentera Pustaka sejak awal didirikan hingga kini beroperasi. Alhamdulillah, animo anak-anak dan masyarakatnya banyak, donasi buku selalu mengalir, dan dukungan korporasi/komuntas untuk CSR pun selalu ada.


“Terus terang, TBM memang pekerjaan sosial. Tapi tata cara mendirikan dan mengelolanya harus profesional. Agar bisa diukur kemajuan dan dampaknya buat masyarakat. Alhamdulillah, TBM Lentera Pustaka sudah on track dan akan terus menebar virus membaca ke anak-anak” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.

Adalah fakta anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Seperti kata studi "Most Littered Nation In the World" dari Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam urusan minat membaca. Bahkan fakta lainnya menunjukkan bahwa masih banyak anak-anak di daerah yang tidak memiliki akses untuk membaca buku. Untuk itu, TBM sangat diperlukan di berbagai daerah.

Terakhir, tradisi baca dan gerakan literasi harus dipahami sebagai perilaku, perbuatan bukan sebatas pelajaran atau teori. Membaca harus jadi gaya hidup anak-anak, untuk mengimbangi gempuran era digital seperti sekarang. Jika tidak, maka anak-anak kita akan tergerus bahkan tersingkir "di makan" zaman dan peradaban.

“TBM adalah peninggalan terakhir kita, suatu saat bila kita tiada. Bacalah dan Tuhanmu sangat pemurah, karena telah mengajarkan kita dengan pena, yang mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya“ …
Salam Literasi #TBMLenteraPustaka #TradisiBaca #BudayaLiterasi #BacaBukanMaen


===========================
Jadilah RELAWAN & DONATUR TBM LENTERA PUSTAKA untuk membangun tradisi baca bagi anak-anak/remaja yang membutuhkan, di samping memberi edukasi akan pentingnya peradaban dan etika.

Untuk informasi lebih lanjut dan partisipasi/donasi dapat menghubungi:
TBM Lentera Pustaka
Jl. Masjid Jami Kp. Warung Loa No. 77 RT 01/12 Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor 16610
Telp:  0812 8568 3535 atau Email: lentera.pustaka77@gmail.com

Rekening Bank BNI Cabang Jkt. Sampoerna Strategic (a.n. Syarifudin Yunus)
No. Rek. 028-826-1601

Mari wujudkan mimpi anak-anak di masa depan melalui buku ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar