Tidak usah khawatir apalagi gelisah. Ketika ada orang di belakang kita membicarakan diri kita. Itu hanya orang-orang yang sedang menggunjing, sedang berghibah. Sedaang asyik membicarakan keburukan kita. Tidak ada dan dipersilakan untuk membicarakan kita di belakang kita. Mungkin di dunia, menggunjing terkesan merugikan. Karena nama baik tercoreng, perasaan terluka, bahkan menimbulkan masalah sosial.
Tidak apa ketika ada orang di belakang kita membicarakan diri kita.
Ubahlah cara pandang tentang itu. Bahwa orang di belakang kita membicarakan
kita “hanya membahayakan dunia kita, tapi bermanfaat untuk akhirat kita.”
Sebab, orang yang menggunjing justru bisa “memindahkan” pahala penggunjing kepada
yang digunjing. Sebuah momen indah saat orang lain mengambil dosa dari kita
atas sebab gunjingannya. Tanpa disadari, para penggunjing justru sedang memberi
keuntungan di sisi akhirat.
Maka biarkanlah mereka meneruskan gunjingannya. Bukan berarti
menyetujui keburukan, tetapi menunjukkan kelapangan hati. Tidak semua hal perlu
dibalas atau dilawan. Ada situasi di mana diam dan menyerahkan urusan kepada
Allah justru lebih menenangkan dan bernilai. Memang sulit tapi ikhtiarkanlah.
Untuk mengubah luka menjadi kekuatan: tidak larut dalam sakit hati, tetapi
melihatnya dari sudut yang lebih luas dan lebih bermakna.
Ketahuilah, hal merugikan di dunia belum tentu merugikan di
akhirat. Dan yang paling penting bukan bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Tapibagaimana kita menyikapi apa yang diperbuat orang lain dengan sabar dan
bijak.
Jadi, tidak apa ketika ada orang di belakang kita membicarakan
diri kita. Biarkan dan tidak usah khawatir. Toh, semua ada waktunya semua ada
balasannya. Selamat bergunjing!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar