Di suatu sore yang hangat masih di suasana Idulfitri 1447 H, lima sahabat yang dulu satu kelas S3 di 18KS2 (Angkatan 2018) Program Doktoral Manajemen Pendidikan Unpak sekaligus dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta akhirnya bersilaturahmi sambil menikmati ketupat padang + tunjang. Sederhana tapi berkesan, begitu obrolan yang dibangun sambil berkisah masa-masa kuliah dan menuntaskan disertasi. Di balik kesibukan tugas mengajar masing-masing, sebut saja “sidang” para doktor ini menjadi bagian komitmen untuk merawat pertemanan plus obrolan ringan dan serius.
Mereka adalah Dr. Dasmo, Dr. Huri, Dr. Ghufron, Dr. Irwan, dan Dr.
Syarif mewakili 23 orang teman sekelas 18KS2 S3 MP Unpak menjaga soliditas
sejawat, di samping ngobrol ilmiah yang bernas untuk publikasi jurnal ilmiah. Pertemuan
itu berlangsung di tempat kuliner pinggir jalan dekat kampus, dengan suasana
santai namun penuh kehangatan. Tawa dan cerita masa lalu mengalir begitu saja,
seolah waktu tidak pernah memisahkan masa-masa di kelas dulu.
Setelah obrolan ringan tentang masa-masa perjuangan dan pekerjaan,
diskusi perlahan beralih ke topik yang lebih serius. Ngobrol tentang publikasi jurnal
ilmiah, tantangan dunia pendidikan, hingga obrolan pentingnya menyiapkan masa
pensiun. Karena siapapun, cepat atau lambat pasti akan pensiun. Masalahnya,
apakah punya kesinambungan penghasilan di hari tua atau bergantung kepada anak?
Biar tidak hanya asyik mengajar tapi juga mulai mempersiapkan hari tua dengan
lebih baik.
Sementara obrolan penuh canda berlanjut, mulailah suguhan khas “teh
talua pinang” dihidangkan ke atas meja. Segelas minuman tradisional yang popular,
dikenal berkhasiat meningkatkan stamina pria secara drastis, mengurangi
kelelahan, dan memberikan kehangatan tubuh. Kombinasi kuning telur bebek, teh,
dan parutan pinang muda ini kaya nutrisi untuk meningkatkan energi, melancarkan
peredaran darah, serta berpotensi menjaga kesehatan jantung. Sebuah bukti para
doktor pun peduli terhadap Kesehatan, tentu lahir dan batin.
Energi teh talua pinang yang membara, akhirnya membawa obrolan berujung
pada tekad untuk tetap menjalin silaturahmi sesama teman sekelas semasa kuliah
S3 MP di 18KS2 Unpak. Sebagai cara untuk menjaga semangat kebersamaan sekaligus
berbagi cerita ringan tentang apapun. Boleh serius boleh topik-topik yang
rileks. Untuk menjaga keseimbangan hidup lahir batin, tetap rileks di tengan
kesibukan mengajar.
Diskusi semakin hidup ketika mereka mulai saling mengaitkan
perspektif masing-masing, dari berbagai latar belakang program studinya. Ada
yang dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggria, Fisika, dan Biologi namun dalam
rumpun pendidikan. Meskipun program studinya berbeda, mereka menemukan titik
temu: “bahwa solusi terbaik ilmu adalah yang inklusif, berkelanjutan, dan
berbasis kolaborasi”. Percakapan pun terasa seperti kembali ke masa kuliah dulu,
idenya liar namun semangatnya tetap objektif. Di situlah bukti, betapa saling
terhubungnya berbagai bidang ilmu bila diikat dengan pertemanan.
Tidak terasa waktu Magrib tiba, siding para doktor ditutup.
Sebagian Kembali ke rumah, sebagian mengajar kelas malam. Diiringi rasa syukur
dan harapan baru untuk tetap menjaga silaturahmi. Bersepakat untuk tidak hanya
berhenti pada diskusi, tetapi juga merancang kolaborasi bersama yang positif. Sidang
para doktor ini bukan sekadar temu kangen, melainkan awal dari melanggengkan
persahabatan untuk memberi dampak nyata kepada masyarakat.
Dalam gelapnya malam, lima doktor itu “membungkus” satu keyakinan:
ilmu akan lebih bermakna jika dibagikan dan diperjuangkan bersama. Dan
akhirnya, ilmu tidak boleh terbang saat dipuji, tidak boleh hancur saat
diabaikan. Salam sidang para doktor.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar