Ini penting buat orang-orang
yang kerja. Di kantor itu, sebenarnya kayak ekosistem kecil. Orang-orangnya beragam
dan punya banyak model. Sebut saja tipe orang-orang kerja di kantor.
Ada “si pekerja benaran”.
Kerjanya rapi, konsisten, bisa diandalin. Hari-harinya jarang ribut, mau digaji
berapapun diam saja. Jarang pamer dan nggak terlibat politik kantor. Sayangnya,
dia sering under-recognized padahal dia tulang punggung tim. Sebaliknya, ada “si
pekerja ambisius”. Orientasinya Cuma target, nafsu banget naik jabatan, pengen
cepat terlihat. Kerjanya bisa bagus, bisa juga jelek. Bolehlah disebuat pekerja
setengah matang. Fokusnya cuma “kelihatan sukses”. Model begini, kalau sehat
bisa jadi pendorong tim. Tapi kalau nggak bisa jadi sumber drama di kantor.
Ada juga “pekerja si penjilat”.
Selalu pintar membaca selera atasan, loyalitasnya ke orang bukan ke kerjaan. Ada
maunya di setiap perbuatan “baik”. Selalu berusaha untuk aman di segala
keadaan, tentua sampai situasi berubah. Sementara “pekerja si oportunis”.
Bilangnya hanya ikut arus tapi dipilih yang menguntungkan dia saja. Netral di
konflik, tapi cepat pindah orientasi. Kalau kerja jarang salah, tapi jarang
benar juga.
Ada lagi “pekerja si drama”.
Kerjanya biasanya saja. Tapi masalah kecil sukda dibikin jadi gosip besar.
Heboh banget, energinya habis buat konflik, bukan solusi. Biasanya kantor tanpa
orang begini jadi lebih tenang. Sementara “pekerja si manipulator” lain
lagi. Senangnya main kata-kata, bukan kerja. Dia paling senang kalau meeting,
doyan putar cerita biar dia dianggap sebagai korban atau pahlawan. Bikin orang
lain ragu sama persepsinya sendiri. Temannya “pekerja si toxic pasif”.
Kelakuaknya nggak frontal, tapi kerjanya nyindir. Sering ngerem kerjaan
diam-diam. Akhirnya bikin suasana kantor jadi berat tanpa kelihatan arahnya mau
ke mana?
Tapi ada juga pekerja yang
orientasinya positif. Sebut saja “pekerja di polos”. Ini pekerja terlalu
baik. Niatnnya tulus, tapi gampang dimanfaatkan. Sulit bilang “nggak” kepada
siapapun. Kerja banyak tao kredit sedikit. Ada lagi “pekerja si realistis”.
Kerja nyasesuai jobdesc saja, hidupnya juga seimbang. Waktunya kerja ya kerja
waktunya pulang ya pulang. Nggak cari ribut, nggak cari muka dan nggak mau
dimanfaatkan. Stabil, jarang jadi sorotan di kantor. Dan ada “pekerja si visioner”.
Kerjanya selalu melihat jauh ke depan. Kadang idenya kejauhan dari kondisi
lapangan dan butuh eksekutor biar jalan. Begitulah tipe-tipe pekerja di kantor.
Tentu saja, nggak ada pekerja
yang 100% di satu tipe. Kebanyakan itu campuran, tergantung: posisinya sebagai
apa?, tekanan kerjaan, dan budaya kantornya.
Tapi yang perbedaan mencolok
di kantor. Saya sering lihat orang kerja yang baik di kantor. Niatnya tulus.
Kerjanya benar. Nggak pernah neko-neko. Tapi anehnya, dia sering diabaikan. Bukan
karena dia nggak layak. Tapi karena nggak pernah menjual dirinya sendiri. Mikirnya
sederhana, kerja yang bagus saja sudah cukup. Lupa, padahal di kantor, kalau kita
nggak ngomongin kontribusi maka orang lain yang akan ngomong. Akhirnya, kalah
melulu di kantor. Kalah gaji, kalah nggak dipromosi, bahkan kalah di mata
atasannya senditri.
Sementara lawannya, sebut
saja “orang licik” di kantor. Pekerja jahat, yang kelihatannya sibuk dan
pintar, tapi niatnya nggak lurus. Kerjanya nggak ada tapi banyak omong. Kerjaannya
banyak gaya, tapi minim hasil. Rajin ambil panggung, jarang ambil tanggung
jawab. Bahkan selalu merasa tersaining bila ada orang lain yang lberkontribusi
positif. Giliran sukses katanya “gue banget”. Tapi kalau gagal: “kan bukan gue”.
Sering main aman, tapi diam-diam lempar orang lain ke depan bus. Arogan dan
subjektif banget otaknya.
Hati-hati di kantor itu bukan
orang baik semua. Ada yang licik ada yang cuma cari panggung. Entah tujuannya
apa? Makanya ada yang namanya “politik
kantor”, biasanya diperagakan oleh-oleh jahat saat bekerja dan ada di kantor.
Sementara pekerja lainnya, sudah bersyukur bisa kerja dan dapat gaji. Nggak
ribut, tapi konsisten. Nggak cari sorotan, tapi hasilnya kepake. Sering
dianggap “biasa”, padahal fondasi tim
Ironisnya, dunia kantor
sering lebih cepat notice sama yang ribut daripada yang benar. Lebih peduli sama
pekerja yang banyak drama daripada yang polos. Jadi hati-hati saja, dan
tetaplah bekerja dengan tulus dan rapi karena pekerja beitu lebih susah diganti.
Kalau resign pun, susah cari gantinya.
Dan harus diakui, di dunia
kerja, rendah hati itu bagus. Tapi nggak mau nunjukkin kontribusi pun akhirnya
bisa membunuh karier. Orang baik di kantor bukan kalah, cuma nggak kelihatan
dan terlalu polos dalam bekerja. Dan ingat, jangan sampai puluhan tahun kerja
tapi nggak punya dana pensiun. Sebab suatu kali di PHK atau disuruh resign, kan
harus tetap punya tabungan untuk biaya hidup setelah tidak bekerja lagi. Itulah
pentingnya pekerja punya dana pensiun.
Jadi, kamu termasuk pekerja
yang model gimana nih? Atau mau dikenal sebagai pekerja tipe yang mana?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar