Selasa, 03 Februari 2026

Kenali Anda Tipe Pekerja Seperti Apa di kantor?

 

Ini penting buat orang-orang yang kerja. Di kantor itu, sebenarnya kayak ekosistem kecil. Orang-orangnya beragam dan punya banyak model. Sebut saja tipe orang-orang kerja di kantor.

 

Ada “si pekerja benaran”. Kerjanya rapi, konsisten, bisa diandalin. Hari-harinya jarang ribut, mau digaji berapapun diam saja. Jarang pamer dan nggak terlibat politik kantor. Sayangnya, dia sering under-recognized padahal dia tulang punggung tim. Sebaliknya, ada “si pekerja ambisius”. Orientasinya Cuma target, nafsu banget naik jabatan, pengen cepat terlihat. Kerjanya bisa bagus, bisa juga jelek. Bolehlah disebuat pekerja setengah matang. Fokusnya cuma “kelihatan sukses”. Model begini, kalau sehat bisa jadi pendorong tim. Tapi kalau nggak bisa jadi sumber drama di kantor.

 

Ada juga “pekerja si penjilat”. Selalu pintar membaca selera atasan, loyalitasnya ke orang bukan ke kerjaan. Ada maunya di setiap perbuatan “baik”. Selalu berusaha untuk aman di segala keadaan, tentua sampai situasi berubah. Sementara “pekerja si oportunis”. Bilangnya hanya ikut arus tapi dipilih yang menguntungkan dia saja. Netral di konflik, tapi cepat pindah orientasi. Kalau kerja jarang salah, tapi jarang benar juga.

Ada lagi “pekerja si drama”. Kerjanya biasanya saja. Tapi masalah kecil sukda dibikin jadi gosip besar. Heboh banget, energinya habis buat konflik, bukan solusi. Biasanya kantor tanpa orang begini jadi lebih tenang. Sementara “pekerja si manipulator” lain lagi. Senangnya main kata-kata, bukan kerja. Dia paling senang kalau meeting, doyan putar cerita biar dia dianggap sebagai korban atau pahlawan. Bikin orang lain ragu sama persepsinya sendiri. Temannya “pekerja si toxic pasif”. Kelakuaknya nggak frontal, tapi kerjanya nyindir. Sering ngerem kerjaan diam-diam. Akhirnya bikin suasana kantor jadi berat tanpa kelihatan arahnya mau ke mana?

 

Tapi ada juga pekerja yang orientasinya positif. Sebut saja “pekerja di polos”. Ini pekerja terlalu baik. Niatnnya tulus, tapi gampang dimanfaatkan. Sulit bilang “nggak” kepada siapapun. Kerja banyak tao kredit sedikit. Ada lagi “pekerja si realistis”. Kerja nyasesuai jobdesc saja, hidupnya juga seimbang. Waktunya kerja ya kerja waktunya pulang ya pulang. Nggak cari ribut, nggak cari muka dan nggak mau dimanfaatkan. Stabil, jarang jadi sorotan di kantor. Dan ada “pekerja si visioner”. Kerjanya selalu melihat jauh ke depan. Kadang idenya kejauhan dari kondisi lapangan dan butuh eksekutor biar jalan. Begitulah tipe-tipe pekerja di kantor.

 

Tentu saja, nggak ada pekerja yang 100% di satu tipe. Kebanyakan itu campuran, tergantung: posisinya sebagai apa?, tekanan kerjaan, dan budaya kantornya.

 


Tapi yang perbedaan mencolok di kantor. Saya sering lihat orang kerja yang baik di kantor. Niatnya tulus. Kerjanya benar. Nggak pernah neko-neko. Tapi anehnya, dia sering diabaikan. Bukan karena dia nggak layak. Tapi karena nggak pernah menjual dirinya sendiri. Mikirnya sederhana, kerja yang bagus saja sudah cukup. Lupa, padahal di kantor, kalau kita nggak ngomongin kontribusi maka orang lain yang akan ngomong. Akhirnya, kalah melulu di kantor. Kalah gaji, kalah nggak dipromosi, bahkan kalah di mata atasannya senditri.

 

Sementara lawannya, sebut saja “orang licik” di kantor. Pekerja jahat, yang kelihatannya sibuk dan pintar, tapi niatnya nggak lurus. Kerjanya nggak ada tapi banyak omong. Kerjaannya banyak gaya, tapi minim hasil. Rajin ambil panggung, jarang ambil tanggung jawab. Bahkan selalu merasa tersaining bila ada orang lain yang lberkontribusi positif. Giliran sukses katanya “gue banget”. Tapi kalau gagal: “kan bukan gue”. Sering main aman, tapi diam-diam lempar orang lain ke depan bus. Arogan dan subjektif banget otaknya.

 

Hati-hati di kantor itu bukan orang baik semua. Ada yang licik ada yang cuma cari panggung. Entah tujuannya apa? Makanya ada yang namanya  “politik kantor”, biasanya diperagakan oleh-oleh jahat saat bekerja dan ada di kantor. Sementara pekerja lainnya, sudah bersyukur bisa kerja dan dapat gaji. Nggak ribut, tapi konsisten. Nggak cari sorotan, tapi hasilnya kepake. Sering dianggap “biasa”, padahal fondasi tim

 

Ironisnya, dunia kantor sering lebih cepat notice sama yang ribut daripada yang benar. Lebih peduli sama pekerja yang banyak drama daripada yang polos. Jadi hati-hati saja, dan tetaplah bekerja dengan tulus dan rapi karena pekerja beitu lebih susah diganti. Kalau resign pun, susah cari gantinya.

 

Dan harus diakui, di dunia kerja, rendah hati itu bagus. Tapi nggak mau nunjukkin kontribusi pun akhirnya bisa membunuh karier. Orang baik di kantor bukan kalah, cuma nggak kelihatan dan terlalu polos dalam bekerja. Dan ingat, jangan sampai puluhan tahun kerja tapi nggak punya dana pensiun. Sebab suatu kali di PHK atau disuruh resign, kan harus tetap punya tabungan untuk biaya hidup setelah tidak bekerja lagi. Itulah pentingnya pekerja punya dana pensiun.

 

Jadi, kamu termasuk pekerja yang model gimana nih? Atau mau dikenal sebagai pekerja tipe yang mana?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar