Manusia sering lupa. Bahwa sejatinya manusia itu datang ke dunia tanpa taring, tanpa cakar, tanpa perisai. Tubuhnya rapuh jika dibandingkan dengan banyak makhluk lain. Tapi ada satu hal yang ia bawa sejak awal, sesuatu yang tidak terlihat namun menentukan segalanya yaitu akal. Dari sanalah manusia mulai bertahan, melangkah, dan membangun arti hidupnya. Bukan untuk angkuh atau arogan. Tapi untuk mengabdi kepada-Nya.
Akal membuat manusia belajar dari rasa sakit, membaca tanda-tanda,
dan memilih jalan. Akal yang harusnya bisa membedakan yang baik mana yang
buruk. Akal pula yang menentukan derajat dan martabat manusia. Akal bukan
sekadar alat untuk berpikir, tapi juga untuk menimbang, menahan diri, dan
memahami akibat. Dengan akalnya, manusia mengubah kelemahan menjadi daya. Ia
mencipta alat, aturan, dan nilai, bukan karena kuat. Tapi karena mampu berpikir
jauh ke depan.
Lalu, mengapa masih ada manusia yang tidak mau menggunakan
akalnya? Hingga hatinya mati, hidupnya dipenuhi prasangka buruk bahkan
kezoliman yang dibuat untuk orang lain. Hai manusia, siapakah kalian? Dari mana
dan mau ke mana nantinya setelah berakhir hidup di dunia?
Hati-hatilah manusia. Ketika akal tidak digunakan, manusia
sebenarnya sedang melepaskan satu-satunya senjata yang ia miliki. Bukan tubuh
yang membuat manusia jatuh, melainkan pikiran yang dibiarkan tumpul. Selama
akal dijaga, diasah, dan digunakan, manusia selalu punya cara untuk bertahan,
bahkan di dunia yang paling keras sekalipun.
Hanya akal yang bisa mengubah manusia jadi lebih baik. Jangan
remehkan akal selagi sehat. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar