Rabu, 27 September 2023

Nggak Ngasih Makan Nggak Nyekolahin Tapi Gemar Berprasangka Buruk, Kok Bisa?

Satu di antara banyak kelemahan manusia adalah terlalu gampang menilai orang lain hanya dari penampilan luar. Terlalu mudah percaya dari perkataan orang lain. Tidak banyak tahu tapi seolah-olah paling tahu. Berprasangka buruk kepada orang lain. Ngasih makan nggak, nyekolahin nggak. Tapi giliran ngomong seperti yang ngelahirin. Lupa, prasangka buruk itu perbuatan tercela.

   

Manusia, memang cenderung gemar menilai orang lain. Sayangnya, dia tidak suka jika orang lain berbalik menilainya. Prasangkanya buruk, akhalkanya jelek. Terlalu gampang menuding bahkan memvonis orang lain. Seperti si siswa SMP di Cilacap yang viral memukul kawannya sendiri. Karena prasangka buruknya, temannay dianggap bergabung ke geng lain, lalu dia membully dan menganiaya orang lain seenaknya. Alhamdulillah dan bersyukur, si siswa SMP yang “sok jagoan” itu akhirany ditangkap polisi dan harus “dikurung” akibat perbuatan jahatnya.

 

Terbukti, prasangka buruk itu bukan hanya merugikan orang lain. Tapi merugikan diri sendiri. Maka jangan berprasangka buruk kepada siapapun, atas alasan apapun. Apalagi bila nggak tahu duduk perkaranya. Lebih baik diam daripada berprasangka buruk. Karena prasangka buruk itu simbol rusaknya keimanan seseorang. Bobroknya akhlak seseorang. Saat prasangka buruk menyelimuti, di situlah hasutan setan datang. Gibah dan fitnah bertebaran akibat prasangka buruk. Bahkan rusaknya hubungan dan silaturahim, sering kali akibat prasangka buruk.

 

Ketahuilah, “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 6478 dan Muslim no. 2988).

 


Agar terhindar dari prasangka buruk dan perbuatan yang sia-sia itu pula, saya lebih memilih berkiprah di Taman Bacaan Masayarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Untuk membiasakan berbuat baik dan menebar manfaat. Sambil menjauh dari orang-orang yang hanya banyak omong tanpa aksi nyata. Menjauh dari obrolan yang sia-sia, apalagi hanya bergosip tanpa ujung. Di TBM Lentera Pustaka, saya jadi lebih mampu menahan diri dari keinginan berprasangka buruk kepada orang lain. Sibuk untuk mengabdi secara sosial, di samping menghindari lisan-lisan yang tercela. Ada Pelajaran akhlak yang luar biasa saat berada di taman bacaan. Lalu, kenapa masih banyak orang yang “bersahabat” dengan prasangka buruk tanpa aksi nyata yang baik? Silakan dipikirkan sendiri.

 

Literasi itu penting bukan untuk mengajak orang lain membaca. Tapi lebih dari itu, literasi justru mengajarkan siapapun untuk tidak gampang berprasangka buruk terhadap diri sendiri, orang lain, kehidupan, bahkan kepada Tuhan. Berhentilah berprasangka buruk, berpindahlah ke perbuatan baik. Ubah niat baik jadi aksi nyata. Untuk selalu menebarkan benih-benih kebaikan dan manfaat kepada sesama.

 

Tapi bila keadaan yang memaksa, biarlah orang lain berprasangka buruk. Karena memang, hak orang lain untuk berprasangka buruk bahkan membenci kita. Tapi, kewajiban kita adalah tetap berbuat baik kepada semua orang. Seperti saat minum secangkir kopi, silakan tambahkan gula, dicampur susu, atau ditaburi coklat. Terserah Anda. Tapi ingat, seninya minum kopi adalah kita belajar memahami pahitnya kopi. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar