Rabu, 29 September 2021

Apa Kata Taman Bacaan Tentang Literasi?

Saat ditanya, apa itu literasi? Agak bingung juga, dari mana mulai menjawabnya. Apa literasi sebatas membaca dan menulis. Apalagi data Litbang Kemdikbud (2019) menyebut angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional Indonesia berada di angka 37,32. Tergolong masih rendah alias belum memadai. Sehingga dibutuhkan aktivitas literasi seperti di taman bacaan.

 

Belum lagi bila dikaitkan hasil riset We Are Social bertajuk “Global Digital Reports 2020” yang menyebut 64% penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Bahkan angka rata-rata orang Indonesia berselancar di dunia maya tercatat 7 jam 59 menit per hari. Melebihi angka rata-rata global yang hanya 6 jam 43 menit di internet per harinya. Angka 64% dari jumlah penduduk yang mencapai 272 juta orang, tentu sangat besar. Makanya,ada istilah orang Indonesia dikenal “malas baca tapi cerewet di media sosial”.

 

Jadi, apa itu literasi?

Istilah literasi mulanya berasal dari bahasa latin “literatus”, yang berarti orang yang belajar. Itu berarti, literasi dapat dikatakan adanya kesadaran belajar seseorang untuk memahami realitas yang ada dalam kehidupan. Lalu mampu mentransformasikannya ke dalam perilaku sehari-hari. Literasi itu sikap dalam memahami realitas kehidupan. Makanya orang yang mampu bersikap seperti itu disebut orang yang literat. Sebagai contoh, pandemi Covid-19 adalah sebuah realitas. Maka seseorang yang literat sudah pasti mau divaksin. Selain patuh kepada protokol kesehatan 3M (memakai masker – mencuci tangan – menjaga jarak). Bukan sebaliknya, malah menebar hoaks tentang vaksin atau tidak patuh terhadap protocol Kesehatan.

 

Memang, literasi dulu dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih merujuk pada kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung. Tapi hari ini in, literasi harus dimaknakan sebagai kemampuan memecahkan masalah. Sebuah kemampuan untuk adaptasi, kontribusi, dan mencari solusi. Maka literasi, sangat membutuhkan kemampuan berbahasa dan berpikir yang mumpuni.

 


Seiring dinamika peradaban manusia. Literasi pun ber-evolusi sesuai dengan tantangan zaman. Literasi sudah mengalami perluasan makna yang penting. Yaitu menyangkut “kompetensi dan kecakapan hidup” dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Literasi yang merasuk pada praktik pendidikan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi. Karenanya, Education Development Center (EDC) menyebut literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skills yang dimiliki dalam hidupnya, lebih dari sekadar kemampuan baca tulis.

 

Saya pun meng-iya-kan. Bahwa literasi punya dua kata kunci: 1) kesadaran belajar dan 2) memahami realitas. Maka basis dari gerakan literasi adalah adanya kesadaran belajar dan kemampuan memahami realitas kehidupan. Dna berujung pada keberanian mentransformasikan ke dalam perilaku nyata yang lebih baik. Untuk itu, seseorang dapat dikatakan literat bila memiliki 5 (lima) perilaku nyata yang kompeten yaitu: 1) memahami, 2) melibatkan, 3) menggunakan, 4) menganalisis, dan 5) mentransformasi. Sehingga literat adalah sebuah proses, untuk kompeten dan cakap.

 

Jadi, literasi adalah sebuah kompetensi dan kecakapan seseorang dalam menyeimbangkan pikiran dan perilaku, mampu adaptasi terhadap perubahan, dan yang terpenting mampu memecahkan masalah sesuai realitas yang ada. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu




Tidak ada komentar:

Posting Komentar